sekolahbengkulu.com

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Jendela Dunia, Panggung Kehidupan

1. Bau Kapur dan Kenangan: Kisah Bangku Paling Belakang

Di bangku paling belakang, di sudut kelas yang remang-remang, duduklah Ardi. Bukan karena ia nakal, melainkan karena posturnya yang menjulang tinggi, menjadikannya penghuni tetap deretan kursi paling buncit. Aroma kapur yang khas, bercampur dengan bau buku yang sudah usang, menjadi parfum hariannya. Baginya, bangku belakang bukan sekadar tempat duduk, melainkan panggung bisu tempat ia menyaksikan drama kehidupan sekolah.

Ardi bukanlah murid teladan. Catatan pelajarannya seringkali dihiasi angka merah. Namun, otaknya cerdas, pikirannya liar, dan jiwanya penuh dengan pertanyaan. Ia lebih suka mengamati interaksi teman-temannya, mendengarkan obrolan guru, dan merenungkan filosofi hidup yang tersirat di balik rumus-rumus matematika.

Suatu hari, Bu Ratna, guru matematikanya yang terkenal galak, memergokinya sedang menggambar karikatur dirinya di buku catatan. Semua murid menahan napas, menunggu amarah Bu Ratna meledak. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Bu Ratna tersenyum tipis, lalu berkata, “Ardi, bakatmu luar biasa. Sayang jika hanya disia-siakan di bangku belakang.”

Sejak saat itu, Bu Ratna memberikan Ardi tugas-tugas kreatif yang melibatkannya dengan matematika. Ia diminta membuat infografis, komik matematika, bahkan video animasi yang menjelaskan konsep-konsep rumit. Ardi pun menemukan dunianya. Bangku belakang yang dulunya terasa pengap, kini menjadi studio inspirasinya. Ia membuktikan bahwa kecerdasan tidak hanya diukur dari angka-angka di rapor, tetapi juga dari kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

2. Kantin Kejujuran: Ujian Integritas di Tengah Godaan

Kantin kejujuran. Sebuah konsep idealis yang diterapkan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai moral. Tidak ada penjaga, harga barang sudah tertera jelas, dan pembeli diharapkan membayar sendiri sesuai dengan jumlah yang diambil. Bagi sebagian murid, kantin kejujuran adalah kesempatan untuk menguji integritas diri. Bagi yang lain, ini adalah godaan yang sulit dihindari.

Rina, seorang siswi yang berasal dari keluarga sederhana, seringkali merasa lapar di jam istirahat. Uang jajannya pas-pasan, hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi kuning yang harganya paling murah. Suatu hari, ia melihat sebungkus roti cokelat yang tampak sangat menggoda. Perutnya keroncongan, dan ia sangat ingin mencicipi roti itu.

Ia mengambil roti itu, lalu menghitung uang di dompetnya. Ternyata, uangnya kurang seribu rupiah. Ia bimbang. Apakah ia harus mengembalikan roti itu, atau mengambil uang seribu dari kotak pembayaran? Pikiran-pikiran buruk mulai menghantuinya. Tidak ada yang tahu, pikirnya. Toh, hanya seribu rupiah.

Namun, bayangan wajah ibunya yang selalu mengajarkannya tentang kejujuran menghantuinya. Ia teringat pesan ibunya, “Kejujuran adalah harta yang paling berharga. Jangan pernah menukarnya dengan apa pun.” Dengan berat hati, Rina mengembalikan roti itu ke rak. Ia merasa lega, meskipun perutnya masih keroncongan.

Keesokan harinya, ia menemukan amplop kecil di mejanya. Di dalamnya terdapat uang lima ribu rupiah dan selembar kertas bertuliskan, “Untuk Rina, yang telah lulus ujian kejujuran. Dari temanmu yang bangga padamu.” Rina tersenyum. Ia tahu, kejujuran memang selalu membuahkan kebaikan.

3. Perpustakaan Senyap: Temui Dunia dalam Keheningan

Perpustakaan sekolah. Sebuah tempat yang seringkali diabaikan oleh para siswa. Dianggap membosankan, kuno, dan tidak menarik. Padahal, di balik rak-rak buku yang menjulang tinggi, tersimpan ribuan kisah, pengetahuan, dan inspirasi yang siap untuk dijelajahi.

Bagi Budi, perpustakaan adalah oase di tengah hiruk pikuk kehidupan sekolah. Ia adalah seorang kutu buku sejati. Setiap jam istirahat, ia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi perpustakaan. Ia membaca apa saja yang menarik perhatiannya, mulai dari novel fiksi ilmiah, buku sejarah, hingga ensiklopedia tentang hewan-hewan langka.

Di perpustakaan, ia bertemu dengan tokoh-tokoh besar dunia, menjelajahi tempat-tempat eksotis, dan mempelajari berbagai macam budaya. Ia merasa seperti memiliki sayap, bebas terbang ke mana pun ia mau, hanya dengan membaca buku.

Suatu hari, ia menemukan sebuah buku tua yang berjudul “Rahasia Alam Semesta.” Buku itu berisi teori-teori fisika yang rumit, tetapi ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Budi terpukau. Ia merasa seperti menemukan kunci untuk membuka pintu pengetahuan yang selama ini tersembunyi.

Sejak saat itu, ia bercita-cita menjadi seorang ilmuwan. Ia ingin meneliti alam semesta, mengungkap misteri-misterinya, dan memberikan kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Perpustakaan yang dulunya dianggap sebagai tempat yang membosankan, kini menjadi sumber inspirasi dan motivasinya. Ia membuktikan bahwa dunia bisa ditemukan dalam heningnya perpustakaan.

4. MOS (Masa Orientasi Siswa): Antara Tradisi dan Perubahan

MOS, atau Masa Orientasi Siswa, adalah tradisi yang selalu ada di setiap sekolah. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan lingkungan sekolah, mengenalkan para guru dan staf, serta membantu para siswa baru beradaptasi dengan kehidupan sekolah. Namun, seringkali MOS diwarnai dengan kegiatan-kegiatan yang kurang mendidik, seperti perpeloncoan, tugas-tugas yang aneh, dan intimidasi.

Tahun ini, Sarah menjadi salah satu panitia MOS di sekolahnya. Ia merasa resah dengan tradisi MOS yang selama ini dilakukan. Ia ingin mengubahnya menjadi kegiatan yang lebih positif, kreatif, dan bermanfaat bagi para siswa baru.

Bersama dengan teman-temannya, Sarah mengusulkan konsep MOS yang berbeda. Mereka mengganti kegiatan perpeloncoan dengan kegiatan sosial, seperti membersihkan lingkungan sekolah, mengunjungi panti asuhan, dan memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Mereka juga mengadakan workshop tentang berbagai macam keterampilan, seperti jurnalistik, fotografi, dan desain grafis.

Awalnya, usulan mereka ditentang oleh sebagian guru dan senior. Mereka menganggap bahwa usulan itu terlalu radikal dan tidak sesuai dengan tradisi. Namun, Sarah dan teman-temannya tidak menyerah. Mereka terus berjuang dan memberikan аргумент-аргумент yang rasional.

Akhirnya, usulan mereka diterima. MOS tahun ini berjalan dengan lancar dan sukses. Para siswa baru merasa senang dan termotivasi. Mereka merasa diterima dan dihargai. Sarah dan teman-temannya membuktikan bahwa tradisi bisa diubah, asalkan ada kemauan dan keberanian untuk melakukan perubahan.

5. Pentas Seni: Mengungkap Bakat Terpendam

Pentas seni. Sebuah acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh para siswa. Kesempatan untuk menunjukkan bakat, kreativitas, dan ekspresi diri. Panggung menjadi arena untuk unjuk kebolehan, mulai dari menyanyi, menari, bermain musik, hingga berakting.

Rudi, seorang siswa yang pemalu dan kurang percaya diri, memiliki bakat terpendam dalam bermain gitar. Ia seringkali bermain gitar sendirian di kamarnya, menciptakan lagu-lagu yang indah dan menyentuh hati. Namun, ia tidak pernah berani untuk menunjukkan bakatnya di depan orang banyak.

Suatu hari, teman-temannya mendorong Rudi untuk mengikuti audisi pentas seni. Awalnya, ia menolak. Ia merasa tidak pantas dan takut gagal. Namun, teman-temannya terus memberikan semangat dan dukungan. Akhirnya, Rudi memberanikan diri untuk mengikuti audisi.

Saat audisi, Rudi tampil dengan membawakan lagu ciptaannya sendiri. Ia bermain gitar dengan penuh penghayatan, menyanyikan lirik lagu dengan suara yang merdu. Semua orang terpukau. Rudi lolos audisi dan terpilih untuk tampil di pentas seni.

Di hari pentas seni, Rudi merasa gugup dan takut. Namun, ia mengingat pesan teman-temannya untuk percaya diri dan memberikan yang terbaik. Ia naik ke atas panggung, memegang gitarnya, dan mulai bermain.

Suara gitarnya mengalun indah, memenuhi seluruh ruangan. Ia menyanyi dengan penuh semangat, menyampaikan pesan lagunya dengan jujur dan tulus. Penonton memberikan tepuk tangan yang meriah. Rudi merasa bahagia dan bangga. Ia telah berhasil mengungkap bakat terpendamnya dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Pentas seni telah mengubah hidupnya. Ia menjadi lebih percaya diri, berani, dan kreatif.